Friday, 2 August 2019
Friday, 31 May 2019
Deindividusi
Deindividuasi adalah perilaku seseorang atau beberapa orang dalam kelompok yang menyebabkan kehilangan atas keinginan atau penghargaan diri sendiri sehingga membuat satu hal yang sama dengan kelompok. Contohnya adalah berbicara secara geng sehingga hilang dalam tanggung jawab sendiri
Ciri-ciri yang ada disebabkan oleh:
1. Merepresentasikan pola kebiasaan atas niat
dan perilaku
2.
Mereka menjadi berlebihan dan membuat konsekuensi serius
3.
Perilaku bermasalah stabil dalam waktu yang lama
4.
Mereka menjadi penting dalam kehidupan individu
5.
Mereka berhubungan secara psikologis dan fisiologis
6. Individu
menjadi ketagihan pada perilaku
Norma
sosial lebih sulit digunakan untuk menjelaskan. Kontrol sosial tergantung pada
kontrol diri(Hirschi, 2004; Wiatrowski, Griswold, & Roberts,
1981)
Antisosial
Antisosial ditandai dengan charming atau memberi pesona indah untuk melukai orang lain atau mendapatkan keinginan yang mereka mau, merendahkan nilai, sedikit empati, tidak terkontrol impulsnya, ingin melukai orang lain (DSM)
Internet adalah tempat tanpa melihat kondisi ataupun seseorang secara langsung, dimana tempat yang paling sering terjadi penculikan online dan hal negatif lainnya sehingga internet merupakan tempat pelampiasan bagi seseorang yang memiliki antisosial.
Contoh lain efek dari media sosial yaitu dengan mengintip atau stalking atas privasi orang lain
»» Read More...
Internet adalah tempat tanpa melihat kondisi ataupun seseorang secara langsung, dimana tempat yang paling sering terjadi penculikan online dan hal negatif lainnya sehingga internet merupakan tempat pelampiasan bagi seseorang yang memiliki antisosial.
Contoh lain efek dari media sosial yaitu dengan mengintip atau stalking atas privasi orang lain
Gambling
Kriteria Judi
DSM V
1, Butuh untuk
mendapatkan uang lebih banyak
2. Gagal
berhenti
3. Sensitif saat
berhenti
4. Mengurangi depresi
5.
Mencoba kembali setelah kalah
6.
Berbohong untuk berjudi
7.
Melakukan hal ilegal untuk berjudi
8.
Kehilangan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain untuk berjudi
9.
Bergantung pada orang lain untuk kehilangan keuangan akibat judi
Blaszczynski and
Nower (2002) menjelaskan patologi gambling:
1. Behavior atau
secara perilaku bermasalah,
2. Emosional atau
secara emosi bermasalah
3. Antisosial atau
secara impulsif.
Secara kognitif terdapat fallacy atau kesalahan persepsi dimana terdapat
1. Hot hand atau berharap mendapatkan hal yang diinginkan
2. Near miss atau menganggap hanya sedikit kesalahan dalam berjudi sehingga mengakibatkan melanjutkan ilusi tersebut
Kontrol ilusi:
1. Merasa mendapatkan kekuatan untuk mengontrol
2. Melihat kejadian dengan meningkatkan kontrol seperti mengocok dadu keras untuk mendapat hasil tinggi
3. Mengestimasi lebih tinggi daripada hasil yang keluar
Seorang pria paruh baya, Tony, menjadi pecandu hanya dengan melihat papan permainan judi dan ingin membayar atau menaruh bayarannya. Hal ini adalah kerusakan di otak menurut Profesor Neurologis David Nutt dimana insular dan korteks yang memberi dampak pada emosi akan memberikan reaksi apakah saya akan menang? Namun hanya ada beberapa daerah yang dapat memberikan rasa puas saat menang
Label:
#contoh judi,
#DSM,
#gambling,
#judi,
#psikologi,
#psychology,
contoh judi,
DSM,
gambling,
judi,
psikologi,
psychology
Thursday, 30 May 2019
Pornografi
Cooper (1998) menyatakan tiga faktor primer yaitu aksesibiltas, afordibilitas, dan anonimitas (Triple A). Akses membuat satu juta site dewasa selalu terbuka. Afordibilitas yaitu kompetisi dalam web untuk selalu memberi harga murah untuk seks bebas. Anonimitas adalah mendapat komunikasi tanpa memberi risiko nama mereka.
Menurut Young (1998) hal yang menyebabkan kecanduan yaitu
1. Mereka secara rutin mengecek chat dengan cybersex atau pornografi
2. Mereka merasa bekerja saat mengecek pornografi.
3. Menggunakan nama lain atau tanpa nama.
4. Mereka merencanakan gratifikasi atas tindakan mereka dalam kebangkitan porno.
5. Mereka pindah dari cybersex ke seks di dunia asli.
6. Mereka menyembunyikan dari pasangan asli.
7. Mereka malu melakukan pornografi.
8. Mereka masturbasi saat melihat porno.
9. Menggunakan pornografi sebagai gratifikasi pertama.
Hasrat seksual dari pornografi hanya akan membuat seksual menjadi disfungsi (Southern, 2008).
Anak-anak umur 10 tahun karena eksperimen pertama, subjek melihat 12 display dan menggantinya, dan dopamin di otak akan selalu muncul hingga stimulus habis.
Perilaku ini juga mengakibatkan voyeurisme, kesendirian, shock. Berbeda dengan seks yang memiliki feromon dan sentuhan sehingga porno tidaklah sehat.
Riset 2009 semua laki-laki pada universitas melihat porno sehingga tidak ada grup kontrol.
Dr. Jordan berkata bahwa internet adalah tempat cepatnya datang stimulus untuk pornografi, dan model-model porno adalah tempat seksual secara fisik, dan para pecandu porno sangat visual sehingga sangat mudah kecanduan namun tidak baik secara etik. Kita perlu menghargai diri sendiri dan orang lain untuk mengurangi kecanduan. Yang paling sering terjadi pada kecanduan adalah sifat merendahkan atau penolakan atas norma sosial.
Cybersex pada wanita yaitu merasa marah dan dipermalukan (Bridges, Bergner, Hensson-McInnis, 2003)
»» Read More...
Menurut Young (1998) hal yang menyebabkan kecanduan yaitu
1. Mereka secara rutin mengecek chat dengan cybersex atau pornografi
2. Mereka merasa bekerja saat mengecek pornografi.
3. Menggunakan nama lain atau tanpa nama.
4. Mereka merencanakan gratifikasi atas tindakan mereka dalam kebangkitan porno.
5. Mereka pindah dari cybersex ke seks di dunia asli.
6. Mereka menyembunyikan dari pasangan asli.
7. Mereka malu melakukan pornografi.
8. Mereka masturbasi saat melihat porno.
9. Menggunakan pornografi sebagai gratifikasi pertama.
Hasrat seksual dari pornografi hanya akan membuat seksual menjadi disfungsi (Southern, 2008).
Anak-anak umur 10 tahun karena eksperimen pertama, subjek melihat 12 display dan menggantinya, dan dopamin di otak akan selalu muncul hingga stimulus habis.
Perilaku ini juga mengakibatkan voyeurisme, kesendirian, shock. Berbeda dengan seks yang memiliki feromon dan sentuhan sehingga porno tidaklah sehat.
Riset 2009 semua laki-laki pada universitas melihat porno sehingga tidak ada grup kontrol.
Dr. Jordan berkata bahwa internet adalah tempat cepatnya datang stimulus untuk pornografi, dan model-model porno adalah tempat seksual secara fisik, dan para pecandu porno sangat visual sehingga sangat mudah kecanduan namun tidak baik secara etik. Kita perlu menghargai diri sendiri dan orang lain untuk mengurangi kecanduan. Yang paling sering terjadi pada kecanduan adalah sifat merendahkan atau penolakan atas norma sosial.
Cybersex pada wanita yaitu merasa marah dan dipermalukan (Bridges, Bergner, Hensson-McInnis, 2003)
Label:
#anak,
#anonym,
#DSM,
#porn,
#psikologi,
#psychology,
#voyeur,
anak,
anonym,
DSM,
porn,
psikologi,
psychology,
voyeur
Tuesday, 21 May 2019
Junking
Junking adalah konten tidak senonoh yang biasanya diblurkan atau
diperingatkan terlebih dahulu sebelum membuka konten seperti ditandakan konten sensitif. Konten ini biasanya
berupa gambar kekerasan, korban luka-luka, hal-hal yang membuat tidak enak, dan
kegiatan ekstrem lainnya. Seseorang biasanya menyebarkan konten ini untuk mendapatkan bukti asli pada kenyataan di lapangan, namun terkadang konten disebarkan untuk kesenangan dan kepuasan lainnya.
Label:
#ingat,
#junk,
#konten,
#korban,
#psikologi,
#psychology,
#remeh,
ingat,
junk,
konten,
korban,
psikologi,
psychology,
remeh
Hoax
Hoax adalah berita bohong. Berita ini diberikan secara luas karena
kesalahan atau ketidaktahuan, namun juga diberikan karena kebencian. Alasan biasanya
munculnya hoax karena (i) ingin mendapatkan atensi kepada keahlian mengubah
sesuatu, (ii) mendapatkan uang, (iii) memancing dan menyebabkan korban
melakukan hal tersebut, (iv) memberikan rahasia atau kepercayaan dengan
prasangka, dan (v) untuk menipu karena menyenangkan. Contoh Hoax:

Label:
#alasan hoax,
#antihoax,
#hoax,
#psikologi,
#psychology,
alasan hoax,
antihoax,
hoax,
psikologi,
psychology
Flaming
Flaming adalah kegiatan menghina, memprovokasi dengan kata-kata kasar.
Anonimitas menyebabkan disinhibisi atau merasa tak terlihat karena hanya ada di
internet. Kurangnya aturan sosial, mediasi, dan deindividualisasi adalah faktor
lainnya. Riset 2012, di Israel ditemukan seseorang berkomunikasi lebih terkait
agresi saat semianonim namun berkurang ketika dua orang saling tatap mata
ataupun saling melihat layar.
Dalam studi Christopher Bartlett (2016) pada mahasiswa Gettysburg merasa
lebih setuju pada cyberbullying seperti
orang tersebut pantas mendapatkannya.
Contoh flaming:
Trolling
Trolling adalah mengirimkan
kiriman yang menabur kebencian atau mengirim hal yang menjengkelkan yang
membuat hal lucu atau hal spesifik lain. Menurut Erin Buckels (2014) kepribadian
memengaruhi trolling dimana saat mengecek
1200 mahasiswa Universitas Manitoba didapat Dark
Triad yaitu narsistik atau manipulatif, mudah marah lebih-lebih saat tidak
mendapat atensi; machiavellianisme atau fokus pada dirinya sendiri dan mudah
memanipulasi demi menggapai tujuannya; dan sifat psikopat dimana bersifat
impulsif.
Menurut studi 2017 laki-laki lebih antisosial dibanding perempuan dalam
sosial media. Sekitar 7,7 % laki-laki dan 4% dalam peningkatan narsisme.
Orang-orang berusia antara 18-29 lebih sering diganggu.
Contoh Trolling: Remaja laki-laki dibawah ini mengatakan bahwa ia bebas
melakukan troll.
Label:
anonym,
antihoax,
Antisocial,
antisosial,
contoh trolling,
dark triad,
korban,
psikologi,
psychology,
triad,
troll
Saturday, 30 March 2019
Tuesday, 27 November 2018
Label:
#cool,
#keren,
#music,
#musik,
#musik keren,
#the script,
#voice
Subscribe to:
Posts (Atom)




